Raising a montessorian

A journey of raising a montessori child in my own way

Lifelong Learning Mama

Terarium

Terarium memang cantik untuk dijadikan hiasan meja. Bahagianya ada anggota Lifelong Learning Mamas (L3M) yang bisa berbagi pengalaman dalam membuat terarium. Terima kasih banyak buibu mentor Yullie dan Weika. Terarium akhirnya menghiasi rumah kami.

Alat dan Bahan:

   Toples kaca

Kompos

Lumut

Limbah gergaji kayu

Pasir hias

kerikil hias

hiasan rumah/ orang-orangan/ sesuai tema

botol spray air


Cara membuat:

1. Pikirkan dulu tema yang akan digunakan. Saya ambil tema pemandangan kakek nenek yang sedang bersantai di tepi pantai.
2.Masukkan bahan-bahan ke dalam toples sesuai dengan urutan berikut: kerikil hias, limbah gergaji kayu, kompos, pasir pantai.
3.Masukkan pasir hias berwarna biru untuk kesan laut pada sebagian permukaan.
4.Masukkan lumut atau batuan berlumut pada sebagian permukaan untuk kesan daratan berumput.
5.Letakkan hiasan rumah/ orang-orangan untuk mempercantik terarium.
6.Untuk menjaga kelembaban, semprotkan air dari botol spray setiap tiga hari sekali. Jangan terlalu banyak air karena akan merusak bentuk terarium.

Kali ini Ar (6 tahun) ikut bantu membuat terarium. Anak-anak juga bisa membuat terarium seperti ini karena mudah sekali kegiatannya. Proyek terarium bisa digabungkan dengan kegiatan bertema tanaman. Pasti lebih seru jadinya. Anak-anak bisa berlatih menyendok, menuang, dan meratakan bahan-bahan di dalam toples. Menghias terarium bisa mengasah jiwa seni dan mengingat kembali bagaimana bentuk daratan dan lautan. Foto bawah kanan murni buatan Ar. Jangan lupa untuk mengajarkan anak merawat terarium. Kegiatan ini lebih mudah daripada merawat tanaman. Ayo, coba di rumah. Tag instagram @raisingamontessorian dan @lifelonglearningmamas untuk supaya kami bisa melihat hasilnya ya.


Paper Portrait


Biasanya kalau melihat hasil karya paper cutting, saya cuma bisa mengagumi saja. Bagaimana proses membuatnya pun saya tidak tahu. Untungnya ada Ari, anggota Lifelong Learning Mamas, yang menawarkan diri untuk mengajarkan paper cutting. Wow, senang tak terkira akhirnya bisa belajar paper cutting. Kali ini kami diminta untuk mengumpulkan foto anak masing-masing kemudian Ari membuat desain berdasarkan foto wajah anak. Jadi kami sangat terbantu ketika memotong kertas.

Awalnya kami belajar untuk memotong dengan cutter pena supaya jari tangan lebih terbiasa. Arah irisan harus mengarah ke badan sendiri. Gambar yang berwarna abu-abu nantinya akan lepas. Setelah selesai, kertas di balik sehingga sisi belakang yang menghadap depan ketika dipasang di pigura. Silakan dicoba di rumah. Foto wajah bisa diganti dengan tulisan juga.



DIY: Pipe for Sensory Play

Anak-anak suka main pasir, beras atau air? Yuk kita rakit saja pipa untuk mereka bermain sensori. Banyak sekali manfaat bermain sensori. Beberapa diantaranya adalah menguatkan otot-otot jari dan melatih indera peraba. Silakan dicermati foto bentuk pipanya. Ukuran bisa disesuaikan dengan wadah plastik masing-masing. Karena pipa (+) harganya tidak murah yaitu sekitar 50 ribu/buah, kami modifikasi dengan menggabungkan dua pipa T menjadi satu kemudian di lem dengan lem pipa. Mari dicoba di rumah. Anak-anak pasti senang.



DIY Baby Mobile


Karena ada beberapa anggota Lifelong Learning Mamas yang baru saja melahirkan, kami membuat agenda untuk project "Baby Mobile". Bahan sudah disiapkan oleh dua tutor kami yaitu Merry dan Emiko. Peserta tinggal menjahit dan menepel. Yes, akhirnya kami punya Baby Mobile.

Bahan yang diperlukan:

   1 loop/lingkaran kayu

tali kasur
 2 flanel persegi warna hitam

3 flanel persegi warna putih

1 pom pom

1 kait

1 flanel hitam untuk motif

1 flanel putih untuk motif

benang 

jarum

lem flanel

jarum


Cara membuat:

1.  Lem motif flanel hitam pada flanel persegi putih.
2.Lem motif flanel putih pada flanel persegi hitam.
3.Jahit tali kasur pada bagian belakang flanel persegi hitam dan putih.
4.Lilit lingkaran kayu dengan benang wool atau lapisi dengan kain flanel hitam.
5.Atur panjang 6 tali kasur untuk diikat pada lingkaran kayu yang sudah dilapisi wool/flanel.
6.Ikat tali kasur menjadi 1 di bagian atas lingkaran kayu.
7.Masukkan pom-pom ke dalam ikatan tali kasur.
8.Ikat tali kasur pada Pengait.
9.Gantung baby mobile  di atas mata bayi yang sedang telentang. 
10.Atur jarak supaya bayi tidak bisa meraih baby mobile tersebut.



Selamat mencoba. Motif dan hasil jadinya bisa dicermati pada foto paling atas.


Pendidikan Seksual pada Anak

Sebagai orangtua kadang kita merasa enggan untuk menyampaikan tentang seksualitas pada anak ataupun khawatir dengan ancaman para predator di luar sana. Demikian juga para mama di Lifelong Learning Mamas (L3M). Kamiipun mengadakan diskusi dengan psikolog anggota L3M juga. Narasumber kami, Srie Tarwanti. M.Psi. ditemani oleh Rurina Ulya, S.Psi., memberikan penjelasan tentang pendidikan seksual pada anak.

Berikut rangkuman tentang pendidikan seksual pada anak:


Konsep Dasar Pendidikan Seksual Pada Anak

Mengajari anak tentang pendidikan seksual saat usia dini, ada beberapa kata kunci yang harus dipahami. Kata kunci tersebut adalah “pendidikan” dan “seks”.

Menurut Kamus Bahasa Indonesia, kata “pendidikan” adalah proses mengubah sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok dalam upaya mendewasakan melalui upaya pengajaran dan latihan, sedangkan kata “seks” mempunyai dua pengertian, pertama berarti jenis kelamin dan kedua adalah berhubungan dengan alat kelamin.

Pendidikan seks saat ini juga mempunyai arti yang sangat luas, misalnya bagaimana upaya orang tua dalam memberikan pengetahuan tentang perubahan biologis, psikologis, dan psikososial sebagai akibat pertumbuhan dan perkembangan anak.


Secara garis besar pendidikan seksual pada anak bertujuan untuk:

1. Membantu mengetahui topik-topik biologis seperti pertumbuhan, masa pubertas dan kehamilan
2.Mencegah anak-anak dari tindak kekerasan seksual
3.Mengurangi rasa bersalah, malu, dan kecemasan akibat tindakan seksual
4.Mencegah terjadinya kehamilan dan terlibat dalam hubungan seksual di bawah umur dan mengurangi kasus infeksi menular seksua


Pendidikan seks juga disesuaikan dengan perkembangan usia sebagai berikut:

1. Usia 0 – 2 tahun. Anak sudah memiliki kemampuan mengenali kelamin dan membedakannya dari karakteristik fisik.
2.Usia 2 – 5 tahun. Anak seharusnya memahami konsep reproduksi paling sederhana, yaitu jika mereka bersama, maka mereka dapat “menciptakan” bayi.
3.Usia 6 – 8 tahun. Anak sudah memahami akan terjadi perubahan fisik saat menginjak usia pubertas, memahami perbedaan jenis kelamin, asal usul manusia, membersihkan alat genital dengan benar agar terhindar dari kuman dan penyakit. 
4.Usia 9 – 12 tahun. Anak memasuki usia pubertas, mereka harus dapat menerima perubahan dari bentuk tubuhnya, memahami hubungan antara lawan jenis dengan baik dan mengetahui konsekuensi yang akan terjadi dari tindakan yang dilakukan.
5.Usia 13 – 18 tahun. Anak cenderung tertutup jika berkaitan tentang seks. Namun, jika orang tua membiasakan dari awal, maka anak akan lebih terbuka. Penanaman moral ditekankan saat ini. 
6.Usia pranikah. Pembekalan pada pasangan yang ingin menikah tentang hubungan seks yang sehat dan tepat. 
7.Usia setelah menikah. Memelihara pernikahan melalui hubungan seks yang berkualitas.


Pertumbuhan dan Perkembangan Seks pada Anak

1. 

Tahap Oral


Tahap oral adalah tahap dimana seorang anak mendapat perasaan nikmat melalui mulutnya, hingga mencapai usia 1-2 tahun tingkat kepuasan seks dicapai, misalnya dengan mengisap puting susu ibu, dot atau mengisap jari tangan. Pada usia ini anak terlihat sangat antusias memasukkan apa saja ke dalam mulutnya. Hal ini merupakan tahap awal pemenuhan dari perkembangan psikoseksual dalam diri anak. 

2. 

Tahap Anal


Pada tahap ini, kenikmatan yang dirasakannya berubah dari mulut ke daerah anus dan sekitarnya (seperti saluran kencing). Kepuasan seks anak di dapat melalui rangsangan anus, seperti ketika sedang menahan kencing dan buang air besar. Saat buang air besar, antara umur 3-4 tahun sering duduk lama di toilet. Tahap ini dimulai pada saaat anak berusia 2-4 tahun.

3.

Tahap Falik


Pada tahap ini perubahan yang dirasakan adalah sekitar bagian kelaminnya.tahapan ini terjadi sekitar anak berusia 4-5 tahun. Rasa nikmat yang dirasakan berlangsung ketika alat kelaminnya mengalami sentuhan atau rabaan. Kepuasaan seks anak didapat melalui rangsangan anus saat buang air besar, antara umur 3-4 tahun sering duduk lama di toilet, sehingga kepuasannya tercapai.

4.

Tahap Laten


Tahapan ini terjadi pada usia 6-12 tahun. Tingkah laku seksual akan jarang terjadi karena lebih banyak bermain, mulai sekolah dan adanya perkerjaan rumah (PR) yang mengakibatkan mereka melupakan semuanya.

5.

Tahap Genital


Pada usia sekitar 12-15 tahun tanda seks sekunder mulai berkembang dan keinginan seks mulai nampak. Suara mulai berubah, keinginan dipuji mulai muncul. Masa ini adalah masa yang sangat berbahaya, sehingga perlu perhatian khusus orang di sekitarnya terutama orang tua. Sebagai contoh pada anak perermpuan mulai menstruasi dan anak laki-laki mulai mimpi basah.


Mengapa Perlu Pendidikan Seksual Usia Dini

1. Kemajuan teknologi yang begitu pesat membuat semua orang bisa mengakses informasi begitu cepat dan tanpa batas.
2.Pendidikan seks yang ditanamkan sejak dini akan mempermudah anak dalam mengembangkan harga diri, kepercayaan diri dan penerimaan diri yang positif.
3.Pertimbangan lain, pendidikan seksual diberikan lebih awal disebabkan karakter dasar manusia dibentuk pada masa anak-anak.
4.Ahli psikoanalisa telah membuktikan tentang pengaruh yang baik atau  yang tidak baik pada tahun-tahun pertama terhadap pertumbuhan karakter dasar anak. Pendidikan yang salah dapat mempengaruhi perkembangan berbagai bentuk penyimpangan seksual pada masa pertumbuhan selanjutnya.



Peran Orangtua dalam Pendidikan Seksual

1. Beri pemahaman tentang seks berdasarkan nilai agama serta moral. Adanya batasan nilai agama yang ditanamkan ke pikiran anak, maka anak akan berpedoman pada ajaran agama.
2.Beri rasa aman terhadap anak dengan adanya komunikasi yang baik. Komunikasikan secara jelas masalah seks dengan anak, sehingga anak tidak takut bertanya atau mencari sumber yang tidak jelas untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Contoh : perkenalkan secara jelas nama alat kelaminnya “penis/vagina’, jangan menggunakan istilah lain “pampam/titit”. Terangkan juga fungsinya dan cara pemeliharaannya agar terhindar dari kuman penyakit.
3.Sesuaikan penjelasan mengenai seks dengan usia dan tingkat pemahaman anak. Misal anak yang berumur  2 tahun bertanya dari mana datangnya adik bayi. Orang tua dapat menjawab “dari perut ibu”. Jawaban ini singkat, padat, jelas dan sangat sesuai dengan tingkat pemahaman anak yang masih “pendek”.
4.Batasi penjelasan atau jawaban hanya pada pertanyaan anak saja.


Upaya dalam Penyampaian

1. Beri nama anak sesuai jenis kelaminnya
2.Beri perlakuan sesuai dengan jenis kelamin anak
3.Kenalkan bagian tubuh dan fungsinya
4.Ajarkan cara membersihkan alat kelamin
5.Tanamkan rasa malu sedini mungkin
6.Beritahu bagian tubuh yang boleh atau tidak boleh di sentuh orang lain
7.Beritahu jenis sentuhan yang pantas dan tidak pantas
8.Biasakan untuk menutup aurat atau berpakaian yang sopan
9.Pisahkan tempat tidur anak
10.Ajari minta izin pada waktu-waktu tertentu
11. Seleksi media yang digunakan



10 hal yang tidak mendukung pendidikan seksual pada anak

1. Menganggap seks adalah hal yang vulgar dan tabu
2.Menganggap seks adalah hal alamiah sehingga tidak perlu dibicarakan
3.Sewaktu kecil, orang tua tidak mendapatkan pendidikan seks, sehingga merasa tidak perlu membicarakannya dengan anak
4.Menganggap bahwa mengajarkan pendidikan seks pada anak berarti memberikan informasi tidak senonoh
5.Menganggap sesuatu yang tidak dibicarakan, otomatis terselesaikan atau hilang dengan sendirinya
6.Menganggap bahwa pendidikan seks berarti hanya membicarakan proses hubungan seks
7.Menunggu anak bertanya 
8.Menganggap informasi tentang seks tidak menjadi bagian dari keseharian anak
9.Ketika membicarakan seks, timbul pikiran ‘ngeres’ dan merasa anak memiliki pikiran yang sama
10.Kaget dan bereaksi berlebihan pada anak ketika mereka bertanya sesuatu  yang berhubungan dengan seks



Contoh pertanyaan tentang pendidikan seks usia dini

Mengapa aku (perempuan) tidak boleh tidur seranjang dengan abang? Karena kalau tidur terkadang bajunya tersingkap, alat kelamin kita bisa saja kelihatan. Nah, nantikan bisa malu jika itu terlihat.


Bolehkan orang lain melihat penis/vaginaku? Penis atau vagina adalah anggota tubuh yang sangat pribadi (aurat), maka tidak boleh seorangpun melihat.


Dari mana aku lahir dan bagaimana caranya bisa keluar? Adek tumbuh dalam perut ibu. Adek keluar dari perut ibu. Dalam perut ibu ada tempat khusus yang dikenal dengan rahim, dimana bayi tumbuh di dalamnya.melalui lubang khusus diantara kedua kaki ibu yang disebut vagina. Jika sudah tiba waktunya (9 bulan), maka adek akan keluar dari perut ibu. 

Kenapa ayah dan ibu bisa punya anak? Ketika terjadi hubungan seksual antara ayah dan ibu.


Semoga rangkuman ini memberikan pencerahan untuk para mama. Berhubung artikel ini adalahrangkuman materi, kemungkinan pertanyaan para mama di rumah belum bisa terjawab semua. Silakan dikonsultasikan dengan psikolog terdekat jika ada yang belum jelas,